Indahnya kebersamaan takkan bertahan selamanya. Iya aku tau itu..
sama persis dengan jalan hidupku.
Saat banyak orang berkata “masa SMA/SMK”
adalah masa yang paling indah, saat dimana pemikiranmu sudah mulai dewasa, saat
kamu tau arti cinta dan patah hati, saat itulah aku berkata iya
Sudah jadi makanan sehari hari aku hidup dalam
kehampaan ini. Status anak tunggal, kepintaran, terkenal, dan
banyak teman hanyalah frame untuk memperindah penampilanku agar tak
terlihat buruk. Hingga pada akhirnya aku hanyalah kucing usang yang buruk dimata orang-orang yang ku sayang..
benar-benar frame yang indah
Tapi.. aku harus bertahan dalam sedihnya hati ini, dalam sepinya
hati ini. Sekalipun aku sekarat dan terlihat sudah mau mati. Terlihat rendah
dimata orang yang kusayang bagaikan anak panah yang telah menusuk hati. Dimana
aku akan sakit jika melepaskannya dan darah itu terus bercecer jika aku
mendiamkannya.
Untuk saat ini aku hanya bisa diam.
Dengan darah yang berceceran. Aku tak berani untuk mencabut anak panah itu
walaupun aku bisa diobati dan sembuh. Karena untuk sembuh aku harus siap
berteriak menahan sakitnya saat anak panah itu dicabut
Tapi. Kaulah panahku yang gagah berani. Sekalipun kau
telah banyak menyakitku, aku tetap tulus ikhlas lillahi ta’ala menyayangimu.
Dimata kawan kawanku, aku terlihat bodoh. Namun itulah kenyataannya. Aku tak
pernah membohongi diriku sendiri. Jika aku menyukaimu aku langsung
mengatakannya..
Tapi.. umur sepertinya menjadi masalah utamaku untuk mendekatimu.
Terlihat jelas engkau sangat menghormati dan menghargaiku. Namun apakah kau tak
bisa melihat dengan jelas bahwa aku sangat menyayangimu.
Akupun lemah dalam menunjukkannya. Aku
tak mampu berkata “aku menyayangimu” karena status awal yang terbentuk adalah
“rekan tim” atau “adik kakak kelas” sungguh aku tak berani menampilkannya.
Tak apalah. Setidaknya engkau ada dalam setiap do’aku.
Mengiringi tidur burukku (soalnya aku insomnia) Mungkin nanti, saat kita tak
berjumpa lagi akan kukatakan semuanya. Kukatakan semuanya tidak didepanmu. Cukup
aku berdiri di belakangmu dan berkata “aku menyayangimu”. Jangan berbalik dan
cukup dengarkan aku. Berbaliklah saat aku tak lagi ada. Aku berharap kau akan
mengerti sekalipun itu takkan mungkin.
Tolong, dengarkan suara hatiku ini. Kamu adalah
permataku saat ini.







0 komentar:
Posting Komentar