Hay…
Hatiku kembali ingin menceritakanmu. Ntah mengapa saat kamu
marah aku tak mampu membujukmu.. aku masih tak mampu membalas semua yang kamu
berikan untukku. Salah satunya adalah waktu, hal yang sangat berharga. Aku tak
bisa menunggu karena bagiku hal itu hanyalah membuang-buang waktu. Namun kamu
siap menunggu sekalipun aku memberikan 1000 alasan agar kamu tak bersamaku. kehadiranku
merupakan 1 tujuanmu, ingin bersamaku..
Selain waktu, kamu juga memberikan tenagamu untukku. Akupun bertanya-tanya.
Untuk apa ?? sampai rela berhujan-hujan untuk menjemputku, menahan lapar agar
dapat makan bersamaku, juga menyembunyikan sedih serta perih agar aku tidak
memikirkanmu..
kamu juga memberikan hatimu seutuhnya untukku. Tau ngga hati itu
hal yang paling rapuh ? apa kamu yakin memberikannya padaku ?? apa kamu tidak
salah orang menyandarkannya padaku ? aku bahkan tak mampu menjaganya dengan
sempurna. Buktinya, hati itu sering terluka..
Kepergianku dengan kawanku membuat hatinya terluka
Keakrabanku dengan kawanku membuat hatinya terluka
Kepedulianku dengan kawanku membuat hatinya terluka
perhatianku dengan kawanku membuat hatinya terluka
aku benar-benar tak bisa menjagamu dengan baik. Aku bahkan lebih
buruk dari itu. Kurasa kamu sudah sempurna dengan semua hal yang kamu miliki. Jangan
sampai kehadiranku menghancurkan kesempurnaanmu. jangan jadikan aku sebagai
perubahan dirimu menjadi yang lebih buruk. Jadikan aku sebagai perubahan dirimu
menjadi yang lebih baik. jangan masukkan aku dalam do’a dan hatimu. Cukup masukkan
aku dalam khayalanmu
Aku benar-benar takut karena aku banyak menyakiti hatimu. Aku sangat
menjaga sikapku didepanmu. Namun aku kembali bertanya, jika aku seperti itu dimanakah
jati diriku ? apakah aku bersembunyi ?? halo riska kamu dimana ya,
Dalam hati ini aku selalu ingin menjadi milikmu selamanya. Tapi mengapa
egoku sendiri mampu memakan kata hatiku ? egoku yang terus menggertak mengatakan
“kamu ga pantas untuknya. Karena kamu tidak sesempurna dia. Derajatmu tidak setinggi
dia. Kamu tidak seberharga dia. Juga tidak sepenting dia”
Dit, Hati ini
kembali menciut untuk bersinar. Karena hati ini berjalan sendiri. Dan ego
berjalan bersama-sama. Kamu terus membimbingku agar hatiku bisa bersinar
bersama denganmu. Tapi bisakah kamu membunuh egoku sendiri ? pertanyaannya,
jika kita bunuh egoku bersama-sama, apakah aku masih bisa bernafas ?
Dit, sekarang
bagaimana ? aku harus bagaimana agar aku bisa mencapaimu dengan hati yang rapuh
dan diam didalam jeruji ini ?






0 komentar:
Posting Komentar